INFO GHAZI

Makna Cinta dalam Secangkir Kopi


Setiap pagi saat tiba di kantor, mas IG lewat depan kantin. Kantin yang selalu menemani mas IG untuk melepas penat setelah seharian bekerja. Kantin yang tidak pernah terucap kata tidak untuk mampir. Mas IG tidak menduga jika didalam secangkir kopi yang dia buat ada makna terselubung yang membuat mas IG tidak lagi mampu mengucapkan sepatah katapun.

Assalamu'alaikum sahabat kopi,
Waktu masih menunjukkan pukul 05.46 WIB, hari yang menurut mas IG adalah hari yang tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya tetapi mas IG salah. Karena hari ini adalah hari dimana mas IG belajar sesuatu dari dia tentang makna cinta disetiap satu cangkir kopi yang disajikannya.

Warna hitam pekat dengan rasa pahit yang khas mengingatkanku akan arti perjuangan yang telah ku lalui selama ini dengan selingan rasa manis sebagai pelengkap adalah representasi dari hasil perjuangan itu sendiri. Ya begitulah gambaran dari secangkir kopi yang dia sajikan disetiap awal aktivitas mas IG. Tidak satupun dari kita yang mengetahui semanis apakah hasil dari jerih payah yang kita lakukan selama ini.

Hari ini mas IG terlibat obrolan yang hangat dengan (sebut saja namanya Bunga) dia yang adalah seorang pelayan di kantin kantor mas IG. Rasa penasaran yang mengusik hati mas IG telah memaksa mas IG untuk mengajaknya ngobrol santai di pagi hari. Dia meng-iyakan ajakan mas IG. "Apa kabar pagi ini mbak Bunga ?" Adalah pertanyaan pembuka untuk obrolan pagi antara mas IG dengan dia. "Alhamdulillah pak, baik" Jawaban dari mbak bunga yang membuat mas IG tersenyum kecil sambil berkata "Klasik amat jawabannya mbak" Dia membalas pernyataan mas IG hanya dengan senyuman yang menghias raut wajah cantiknya. Mbak bunga sebenarnya seorang yang berpendidikan tetapi mas IG heran, kenapa dia hanya berprofesi sebagai pelayan di kantin ? Dan yang mas IG ketahui adalah bahwa mbak bunga seorang sarjana lulusan dari perguruan tinggi negeri ternama di kota Surabaya.

Tanpa banyak berfikir mas IGpun melayangkan pertanyaan yang bertubi-tubi pada dia, yang diantaranya adalah :

  • Lulusan tahun berapa ?
  • Sejak kapan menekuni profesi ini ?
  • Mengapa jadi pelayan di kantin ?
  • Tidakkah mbak Bunga ingin menjadi orang kantoran atau menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) ?

Dan ini jawaban dari seorang Bunga yang berpenampilan sederhana itu.
Saya lulusan tahun 2010 dari Universitas *** (menyebutkan nama perguruan tinggi negeri, red) Jurusan yang saya ambil saat itu adalah MIPA di fakultas FKIP. Saat kuliah, seluruh biaya saya dapatkan dari berjualan di kantin ini dan terkadang saya mendapatkan dari anak-anak SMA yang les private. Mas IG hanya mendengarkan seluruh jawaban dari mbak bunga serta sesekali menikmati kopi buatan tangannya.

"Saya jadi pelayan disini bukan tanpa alasan pak" sambung mbak bunga. sejak sebelum kuliah saya sudah menekuni profesi ini. Dan saya bangga, karena dengan profesi ini saya dapat melanjutkan pendidikan saya sampai Strata Satu (S1). Dan insha Allah saya akan melanjutkan pendidikan saya ke S2 tahun depan karena tabungan saya sudah cukup, lanjut mbak Bunga sambil tersenyum. Mas IG tertegun dengan jawaban mbak Bunga yang cukup tertata seluruh kata-katanya dengan gaya bicara yang lugas mengindikasikan jika memang seorang Bunga ini adalah Akademisi yang sembunyi dibalik kantin. Yang membuat mas IG lebih terkejut lagi adalah jawaban "Tahun depan ingin melanjutkan ke S2 karena tabungan saya sudah cukup." Sembilan (9) tahun menabung hanya karena ingin melanjutkan study S2 ???. Wow, bagi mas IG ini bukan lagi sebuah perjuangan yang luar biasa tetapi kesabaran tingkat tinggi yang ditunjukkan mbak Bunga.

"Keinginan itu ada pak, siapa yang tidak ingin jadi orang kantoran apalagi PNS ?" Sambung mbak Bunga. Doakan ya pak, agar saya dapat menjadi seperti yang diharapkan oleh kedua orang tua saya. Mas IG hanya menganggukkan kepala mendengar permintaan mbak Bunga. Ibarat kopi yang bapak minum, yang didalamnya ada berbagai macam bahan dan rasa seperti gula, bubuk kopi dan seduhan air panas dengan rasa pahit, manis dengan dipadukan sedikit asam begitulah hari-hari yang selama ini saya jalani pak. Tenaga, hati dan pikiran adalah bahan untuk menjalani segala aktivitas kita sedangkan doa, imajinasi dan sedikit dorongan semangat dari harapan orang tua saya adalah pelengkap perjuangan saya untuk selalu berusaha menjadi baik di tiap hari-hari yang saya lalui.

Pada secangkir kopi yang bapak minum itu jugalah ketika habis maka tidak sepenuhnya habis karena pasti akan menyisahkan ampas yang tidak mungkin bapak konsumsi. Sama halnya dengan hidup saya, yang didalam ataupun diluar tentu saja masih menyisahkan penyakit hati yang sebagai manusia biasa, saya tidak sanggup untuk menghindarinya.

Tetapi dalam secangkir kopi itu juga terkandung semangat dan cinta karena didalamnya bukan hanya gula yang berperan atau kopi atau mungkin air, tetapi masing-masing dari bahan itu sudah memiliki peranannya serta menjadi pelengkap bagi lainnya dan ini tidak akan terjadi jika tidak ada cinta didalmnya. Inilah filosofi dari kopi yang masih bapak minum. Sebagai manusia sosial yang tentu saja membutuhkan bantuan orang lain, saya berpikir jika aktivitas yang kita lalui haruslah saling melengkapi bukan sebaliknya. Dengan cinta kita bisa mewujudkan itu, cinta yang berarti konotasi dari cinta sebenarnya. Contoh, bapak datang, memesan kopi lalu saya buatkan dan menyajikan dengan senyuman secangkir kopi dihadapan bapak, setelah selesai bapak membayar harga secangkir kopi tadi. Mungkin pelayanan dan harga adalah hubungan timbal balik yang biasa-biasa saja pak. Tetapi bukan itu gambaran dari makna cinta, karena yang menjadi lukisan cinta dari pelayanan yang saya berikan adalah senyum dan ramah dalam melayani tamu yang datang di kantin ini.

Tak terasa sudah Satu jam kita berdua larut dalam obrolan. Mas IGpun mengakhiri obrolan dengan berkata "Terima kasih mbak Bunga untuk cerita dan ilmu yang sudah mbak Bunga berikan, saya masuk dulu yan mbak sudah jam 7 tepat (sambil melihat jam)." Mas IGpun beranjak pergi meninggalkan kantin dan mbak bunga yang sedang merapikan meja.

Baca Juga

Pesan mas IG pada mbak bunga, tetap optimis dengan harapan yang ingin dicapai oleh mbak Bunga. Selalu yakin jika rasa manis, pahit dan sedikit asamnya kopi bukan hanya rasa dari minuman nikmat, tetapi juga sebagai sebagai pelengkap hari-hari yang kita lalui dan yang tidak kalah pentingnya adalah cangkir yang sebagai wadah dari minuman. Bolehlah kita melayani dengan senyuman karenan senyum adalah sedekah paling mudah dan merupakan bagian dari ibadah kita tetapi bagaikan cangkir yang sebagai wadah dari wadah minuman, begitupun Shalat adalah sarana (wadah/alat) untuk mengaduhkan seluruh jerit hati kita pada pencipta rasa manis, pahit dan asam.

Yang tertulis disini telah mendapat persetujuan dari mbak Bunga

Attention, please: All advertisements on this site are entirely from the service of the ad provider, if there are advertisements that are not polite or not pleasing to be displayed then it is beyond our control, Please be treated wisely. Please Read Privacy Policy

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments