INFO GHAZI

Mertuaku Bukan Ibuku


Ibu adalah waanita yang melahirkan, membesarkan, dan membimbing serta mendidik kita, ibu tetaplah ibu, waniita yang tak tergantikan dengan apapun, waniitaa yang selalu menjadi pelipur bagi hati anak-anaknya.

Assalamu'alaikum sahabatku

Banyak sekali ungkapan yang tidak bisa dilukiskan untuk menggambarkan ciinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Ibu bukan hanya sebagai teman curhat saat aku sedang gundah gulana, ibu tidak sekedar melayani kebutuhanku saat aku masih kecil tetapi ibu jugalah yang dengan kesabarannya dan dengan hatinya selalu menyebutkan namaku disetiap untaian doa-doanya pada Tuhan, dan ibu jugalah, ... alasan mengapa aku hadir di dunia ini. Ibu yang selalu bangun lebih dulu dipagi hari hanya untuk menyiapkan keperluanku dihari pertama aku masuk sekolah. Ibu adalah orang pertama yang jatuh air matanya saat aku terbaring sakit dan ibu jugalah yang selalu sabar dan ikhlas merawatku hingga aku sembuh. Sutera terlalu kasar bila dibandingkan dengan belaian kaasihh dari seorang ibu, langit teramat pendek jika diukur dengan kesabaranmu dan bumi terasa sempit bila disandingkan dengan keikhlasanmu. Ibu adalah seseorang yang selalu ada ketika orang lain meninggalkanku.  Itulah ibuku.

Baca juga :


Dan... ini untuk ibumu (mertuaku) wahai istriku terciinta.
Saat aku menuliskan ini, sungguh banyak pertanyaan yang terlintas dalam benakku yang tidak sanggup aku tuliskan disini dan semua itu akan terjawab ketika tiba saatnya nanti.

Untuk engkau waanita yang selalu menyambutku dipagi hari,
Peganglah erat keyakinan ini !!! Doa dari ibu kita adalah benteng terkuat untuk menahan kerasnya hidup yang kita jalani, dan sedikitpun tidak ada keraguan dalam hatiku akan hal itu. Kaasih saayang adalah keadaan yang membuat seseorang melihat sesuatu tanpa keraguan dan itu ada dalam diriku pada ibumu hai istriku. Saayangku pada ibu hanya sebatas bakti seorang anak.  Saayangku pada ibuku sendiri sudah membuat aku teramat bahagia dan saat ini ditambah dirimu serta ibumu, bukankah, makin berlipat rasa bahagia itu ? Dalam hidupku ada tiga manusia terdekat, Orang tua kita, dirimu dan anak-anak kita. Aku tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh ibu yang mana, aku  juga tidak akan pernah bisa memilih mendapatkan anak yang seperti apa. Tapi, aku masih punya rasa syukur karena memilikimu, ibu dari anak-anakku.

Bagi engkau kekaasihh hatiku,
Tahukah kau ? aku sangatlah bahagia memiliki ibu dari waanita yang teramat kuciintai, dari waanita yang melahirkan anak-anakku dan dari waanita yang kelak berbagi saayang di masa tua denganku. Meskipun aku tidak lahir dari rahimnya tetapi saayangku padanya setara dengan saayangku pada ibuku. Tidaklah mudah bagiku untuk membawamu meninggalkan ibumu hanya untuk melaksanakan tugas mulia sebagai seorang istri, tetapi ketahuilah istriku, dia ibumu yang telah sempatkan sedikit waktu untuk meneteskan air mata saat kuucapkan janji nikah dihadapannya dan dihadapan Tuhan, dia ibumu yang telah meletakkan kedua tangannya diatas kepalaku untuk mencurahkan restunya dan dia ibumu jugalah yang menepuk pundakku seraya berkata :
"aku titip anak, jaga dia sebagaimana aku menjaganya, saayangi dia sseperti aku menyyayanginya, bimbing dia seperti ayahnya (alm) membimbing kami"
Dengarlah oleh engkau pujaan hatiku, telah luluh hatiku, telah hancur egoku sesaat setelah mendengarkannya, dan aku  hanya bisa menjawab :
"ibu... tidaklah aku orang yang berada, orang yang berharta dengan segala bentuk kemewahan, aku hadir ditengah keluarga ibu dari keluarga yang beda keyakinan dengan putrimu, maka saat ini karena Allah, aku nikahi putri ibu dengan mahar seperangkat alat shalat yang hanya terbungkus koran bekas dan dengan Surat As Sajdah"

Hai engkau ibu dari anak-anakku,
Tahukah engkau makna dari jawaban yang kuberikan pada ibumu ?
Dibandingkan dengan mahar lain, seperangkat alat Shalat memang aku dapatkan dengan harga murah tetapi didalamnya memiliki nilai, makna, harapan dan tanggung jawab yang besar. Begitupun dengan Surat As Sajdah yang sebagai bentuk ketegasanku untuk menjaga Iman dan Islamku dan selalu menjadi Imam dalam hidupmu.

Hai bidadariku,
Hanya ada satu keyakinanku pada dirimu "kelak kita akan kembali bersama di surga" dan itu tidak akan terwujud jika tanpa ridho dan doa seorang ibu. Ibumu bukanlah ibu yang melahirkanku, bukanlah yang membesarkanku dan bukanlah ibu yang menyiapkan keperluanku dihari pertama aku masuk sekolah tetapi ibumu adalah ibu yang telah memberi nafas hidup bagi engkau, ibu yang telah memberi restu bagi aku laki-laki pendampingmu dan bagi kau calon bidadari surgaku. Jika dirimu bahagia, aku bahagia maka ada satu orang lagi yang bahagia ... dialah ibumu (mertuaku)



Attention, please: All advertisements on this site are entirely from the service of the ad provider, if there are advertisements that are not polite or not pleasing to be displayed then it is beyond our control, Please be treated wisely. Please Read Privacy Policy

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments