INFO GHAZI

Anakku Suka Marah :(


Anak sering marah, temperament dan apapun istilahnya, sebenarnya ini adalah sifat dasar manusia yang ada sejak lahir. Marah adalah bagian dari emosi yang ada pada diri manusia sama halnya dengan sedih dan gembira. Emosi tidak dapat dipisahkan dari diri manusia dan siapapun pasti mengalaminya kadang marah, bisa juga sedih atau gembira.

Assalamu'alaikum sahabat anak, Memenuhi permintaan dari bunda Angel, yang menanyakan "Bagaimana ya mas IG cara kita menghadapi anak yang sukanya marah-marah mulu?"

Baik bunda kita bahas yuukk,
Seperti yang mas IG katakan diatas jika marah adalah sifat dasar manusia yang sudah ada sejak dia lahir, dan bisa dialami oleh siapapun entah itu anak ataupun orang dewasa. Secara umum anak-anak meluapkan kemarahannya dengan menjerit dan mengamuk, tentunya hal ini akan menjadi sebuah masalah jika tidak terkendali atau biasa disebut dengan AGRESIF.

Ini sebenarnya tips yang sudah sangat umum sekali digunakan, dan ini juga yang mas IG gunakan untuk anak-anak dirumah, tetapi ingat ya bunda semua itu kembali kepada kondisi keluarga. Dari pengalaman mas IG, 6 (enam) tips ini sangat efektif diterapkan bunda, tetapi sekali lagi ya, bunda boleh memakai metode yang bunda anggap benar.

Apabila si kecil sering mengalami hal demikian maka sebaiknya jangan langsung dimarahi, karena perlu dipahami jika kemarahan yang ada pada anak-anak disebabkan emosi mereka yang masih labil. Berikut ini mas IG berikan beberapa tips untuk menghadapi buah hati bunda yang sering (mudah) marah-marah, disimak yukk.

  1. Jadi panutan yang baik bagi si buah hati
  2. Membangun komunikasi yang hangat
  3. Peka terhadap perasaan si kecil
  4. Hindari tontonan dan bacaan yang mengandung unsur kekerasan
  5. Memberikan larangan yang logis
  6. Mengetahui penyebab kemarahan anak

1. Jadi panutan yang baik bagi si buah hati
Langkah awal yang harus dilakukan adalah sebagai orang tua haruslah menjadi panutan / teladan bagi buah hatinya (tanpa terkecuali), termasuk sikap kedua orang tuanya yang sedang berselisih pendapat setidaknya tidak bertengkar dihadapan anak-anak, karena hal itu merupakan satu dari sekian banyak dampak yang akan dirasakan anak, karena anak adalah peniru yang hebat. Lingkungan juga berperan aktif dalam menentukan sifat dan sikap dari anak-anak, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan bermainnya. Jika di kesehariannya anak-anak selalu disuguhkan dengan pemandangan dari keluarga atau lingkungan sekitar yang sering marah-marah sampai melakukan kekerasan fisik maka bukan tidak mungkin anak-anak juga memiliki peluang untuk terpengaruh dengan kebiasaan semacam itu. Untuk itu bunda, jika menginginkan anak-anak dapat mengendalikan sifat dan sikap mereka maka itu dimulai dari orang tuanya yang juga harus mampu mengontrol diri dan tidak meluapkan kemarahan dihadapan anak-anak.

2. Membangun komunikasi yang hangat
Kalau yang ini mas IG pernah bahas di Artikel ini bunda Diera modernitas seperti ini bukan hal mustahil segalanya sudah dapat dijangkau dengan kedua tangan kita, seperti belanja, ngobrol, bahkan duduk bersebelahan saja ngobrolnya lewat ponsel, hayooo, bunda begitu juga kan ...
Kualitas dan kuantitas sangat diperlukan untuk berkomunikasi dengan keluarga telebih lagi kepada anak-anak kita, bisa dengan mendengarkan si kecil bercerita tentang pengalaman dia di sekolah atau mungkin mendengar semua keluhan si kecil. Salah satu sifat anak yang menggemaskan itu adalah CAPER (cari perhatian) yaa...karena memang dasarnya anak-anak selalu ingin diperhatikan terlebih lagi oleh sosok yang dianggap figur olehnya seperti ayah bunda. Saat ayah dan bunda mendengarkan cerita / keluhan mereka, lakukanlah dengan pendekatan kasih sayang dan jangan cepat bosan untuk mendengarkannya, ingat ya bunda "Tangisan, cerita, sedih dan gembira serta keceriaan mereka tidak akan terulang lagi" Jadi manfaatkan dengan baik ya bunda. Untuk selengkapnya bunda bisa membaca tulisan mas IG yang disini. Yakin ya bunda, jika kita dapat membangun komunikasi yang hangat dengan anak-anak kita maka mereka dengan sendirinya akan belajar bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan aspirasinya.

3. Peka terhadap perasaan si kecil
Secara umum anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang kuat tapi sayangnya kemampuan mereka tidaklah sekuat rasa keingin tahuan mereka, ketika si kecil mengajukan pertanyaan pada kita terkadang kita mengabaikannya atau mungkin juga memarahinya karena banyaknya pertanyaan mereka. Bukan hanya itu bunda anak-anak juga memiliki keinginan yang kuat pula untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, jika tidak dipenuhi maka bisa juga menjadi faktor dari kemarahan si anak. Sebagai orang tua perlu kita untuk belajar memahami dan peka terhadap perasaan mereka. Dengan belajar untuk memahami serta peka terhadap perasaan mereka maka orang tua juga terbantukan untuk lebih mudah menggali potensi yang dimiliki anak-anak.

4. Hindari tontonan dan bacaan yang mengandung unsur kekerasan
Menjadi orang tua yang bijak dalam setiap keadaan memang bukan hal mudah. Anak-anak generasi milenium umumnya sudah sangat dekat dengan gadget yang membuat mereka lupa waktu sampai meniru apa yang mereka lihat di gadget, mulai dari adegan kekerasan sampai adegan yang ***** (maaf ya disensor) disinilah peran serta sebagai orang tua yang bijak sangat diperlukan. Menemani dan membimbing mereka saat memegang gadget serta membatasi pemakaian gadget adalah tindakan yang preventif (pencegahan). Untuk mengalihkan perhatian mereka terhadap gadget dapat juga kita berikan alat permainan edukatf atau bisa dengan buku bacaan baik dongeng nusantara, kisa para nabi, dll. Tetap harus ditemani ya bunda, karena madrasah yang terbaik adalah keluarga.

5. Memberikan larangan yang logis
Tidak boleh ini, tidak boleh itu, jangan ini, jangan itu kalimat larangan seperti itu seringkali keluar dari mulut kita. Tindakan seperti ini akan membuat anak merasa dibatasi ruang geraknya yang berakibat pada kurang kepercayaan diri si anak. Untuk itu ayah dan bunda ketika memberikan larangan pada anak untuk tidak melakukan sesuatu maka sebagai orang tua kita harus memberikan alasan yang logis (diterima akal) kepada anak, kenapa sampai kita melarang mereka. Misal, menjelaskan kalau main korek api itu bahaya nanti tangannya terbakar, dll.

Baca Juga

6. Mengetahui penyebab kemarahan anak
Jika anak-anak sering (mudah) marah, maka orang tua harus mencari tahu penyebabnya, kunci dari poin 6 (enam) ini adalah komunikasi, jika anak sudah merasa nyaman saat menuangkan seluruh keluh kesahnya kepada kita, maka kita akan lebih mudah untuk mencari penyebab dia marah. Untuk mencari penyebab kemarahan si kecil ini memang tidak mudah jika komunikasi antara orang tua dan anak tidak dibina mulai sekarang. Berbagai informasi bisa kita tanyakan kepada teman sekolahnya, teman bermainnya atau kepada orang sekitar, yaa...mungkin saja diantara mereka ada yang mengetahui kenapa si kecil sampai ngambek., ooohhhhh iya bunda, tanya sama gurunya di sekolah juga boleh loohh bunda, terkadang ada loohh siswa yang saking nyamannya sama guru sehingga dijadikan teman curhatnya. Jika bunda sudah menemukan penyebab dari kemarahannya, pasti bunda dengan mudah mencari jalan keluarnya untuk si buah hati.

Permintaan dari Ibu Herlinawati, Dharma wanita Bhayangkari Surabaya untuk putrinya Angel

    Terms of CeritaGhazi :
  • anak suka marah dan teriak
  • anak suka marah dan ngambek
  • anakku suka marah
  • anak mudah marah
  • mengatasi anak yang suka marah
  • mengatasi anak pemarah


Attention, please: All advertisements on this site are entirely from the service of the ad provider, if there are advertisements that are not polite or not pleasing to be displayed then it is beyond our control, Please be treated wisely. Please Read Privacy Policy

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments